Bank sampah sering diremehkan karena nilainya terlihat kecil per setoran. Padahal kajian akademik menunjukkan dampaknya jauh melampaui angka di buku tabungan.
Tiga manfaat yang terukur
1. Ekonomi
Penelitian Gunartin dkk. (2020) di Bank Sampah Ketumbar Pamulang menemukan bank sampah berperan nyata meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat — bukan hanya dari penjualan sampah, tetapi dari produk turunan yang dihasilkan warga. Studi Miftahorrozi dkk. (2022) di Journal of Risk and Financial Management juga menunjukkan keterkaitan bank sampah dengan pemberdayaan sosial-ekonomi di Indonesia.
2. Lingkungan
Setiap kilogram anorganik yang disetor adalah kilogram yang tidak berakhir di TPA. Dengan kondisi Bali yang hanya mampu menangani sekitar 48% dari 4.281 ton sampah hariannya, pengalihan sekecil apa pun berarti.
3. Sosial
Posmaningsih dkk. (2024) menegaskan bahwa kunci keberhasilan bank sampah terletak pada partisipasi warga sekitar — bukan pada peralatan atau bangunannya. Bank sampah menjadi ruang temu warga, tempat kebiasaan baru ditumbuhkan bersama.
Kenapa banyak bank sampah mandek?
Studi yang sama menemukan persoalan bank sampah tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan menyangkut beberapa aspek lain yang saling berkaitan — mulai dari manajemen, pencatatan, hingga konsistensi partisipasi. Bank sampah yang bergantung pada satu-dua orang penggerak akan berhenti begitu orang itu berhalangan.
Di sinilah pencatatan digital berperan: ketika setoran, saldo, dan riwayat tersimpan otomatis, bank sampah tidak lagi bergantung pada ingatan atau buku tulis seseorang.
Bank sampah di Kabupaten Badung
Badung mengembangkan jaringan Bank Sampah Mandiri (BSM) PKK "Mangu Srikandi" di tingkat desa/kelurahan, serta Bank Sampah Edukasi Badung (BSEB) "Mangu Kumara" yang menyasar sekolah — keduanya bagian dari gerakan Badung bersih sampah.